April 21, 2009

Ya Allah, terimakasih atas semua-muanya..

Biarlah kau ku kasih tahu, siapa yang kutemui di perjalanan pulang kerja sore tadi..

  • - Bapak sopir angkot yang sudah tua, yang seolah sudah menghabiskan sepanjang hidupnya di atas jok depan angkutan reot yang doortrim-nya sudah mengelupas seluruhnya, yang cat luarnya sudah bertambal dempul hampir di seluruh sudutnya. Tidak mudah kau temukan sopir angkutan dengan usia se-lanjut sopir yang menjadi pilot angkutan yang kutumpangi sore tadi. Tak layaknya sopir yang suka mendentumkan musik keras-keras sambil merokok atau sambil berteriak-teriak ngobrol dengan teman yang ditemuinya di jalan, Bapak sopir ini sangat santun, berpakaian kemeja rapi dengan topi dan tidak merokok. Jenis sopir yang aku impikan menggantikan sopir-sopir gondrong yang hobi kebut-kebutan, saling mencaci di perempatan dan seringkali membentak-bentak penumpang.
  • - Dua laki-laki usia tanggung yang nongkrong di dalam angkot, yang rupanya hanya untuk memancing calon penumpang agar mengira angkutannya hampir penuh dan segera berangkat. Dua orang ini, nantinya akan meminta uang dua ribu rupiah sebagai balas jasanya.
  • - Satu orang gadis muda yang kuyu, langsung membuka pintu depan dan duduk menyempil di pinggir, menjauh sejauh mungkin dari posisi sopir. Dengan kaos warna-warni dari bahan murahan, tas vinyl yang jelas juga murahan, sendal plastik transparan kuduga gadis ini adalah pekerja industri rumah tangga yang menerapkan jam kerja melebihi aturan. Yang membayar karyawannya lebih rendah dari upah minimum, yang tidak melaporkan kegiatan usahanya pada departemen pajak, departemen tenaga kerja atau departemen perindustrian. Dari kusam keriput kulitnya, dari sinar kuyu matanya, kurus kering badannya, kuduga pula gadis ini kurang gizi atau bekerja jauh melebihi batas kemampuannya.
  • - Lalu seorang ibu-ibu paruh baya karyawan pabrik garment yang pulang kerja sambil meneteng termos besar bertuliskan “susu kacang 500” dan sebuah box plastik yang mungkin tempat ia membawa dagangan gorengan untuk teman-teman karyawannya. Tampak sekali Ibu ini sangat menikmati hidupnya. Barisan giginya yang agak menghitam selalu terlihat saat ia tertawa bersama seorang temannya dan bercerita betapa Bu Oni sangat baik hati karena telah meminjamkan padanya uang 200 ribu untuk biaya adiknya masuk kerja.
  • - Kemudian, naiklah seorang perempuan muda dengan celana jeans dan kemeja pabrik. Dengan alis licin pulasan pinsil, dengan pipi licin mengkilat dan bibir tertarik ke bawah berpulas lipstik yang sudah luntur kutebak perempuan ini karyawan pabrik yang agak beruntung. Bisa mengantongi telepon genggam yang terus mengalunkan musik ke telinganya, dan bisa memandang dengan mata terpicing pada ibu-ibu paruh baya tadi dengan dagu terdongak. Duhai perempuan, apakah kau pikir kalian telah menjadi jauh berbeda hanya karena termos susu kacang dan ponsel yang kau genggam?
  • - Kemudian naik pula seorang ibu muda dengan seragam perusahaan BUMN dengan 2 kantong plastik belanjaan yang bertuliskan sebuah nama supermarket ternama. Tak kuduga, meski terlihat lebih rapi, lebih terdidik, jauh lebih berpunya rupanya masih saja ia berteriak “Kiri!” dengan tiba-tiba. Padahal beberapa saat sebelumnya, Bapak sopir sudah bertanya adakah yang turun di depan tak dijawabnya. Sehingga olenglah angkutan reot itu karena setelah melenggang ke kanan harus membanting stir ke kiri tiba-tiba. Dhuh!
  • - Ada juga seorang pemuda dengan postur badan yang tak begitu besar, untuk tidak menyebutnya mungil. Bersepatu sneakers bermerk, dengan ponsel layar lebar di tangan, rambut mengkilat berdiri menunjuk langit, celana model pensil menempel lekat ke paha dan jaket cappucol. Tak ada yang bisa kuceritakan tentang pemuda ini, karena ia tak mengeluarkan suara sedikitpun dan mengganti teriakan “Kiri” dengan mengetuk atap mobil dengan jarinya. Tak mengacuhkan sekelilingnya, hanya hidup di dalam ponsel yang menggelontorkan musik terus menerus ke telinganya.
  • - Lalu ada seorang pemuda keturunan Tionghoa dengan celana dan kaus hitam, membawa ransel dan kantong plastik hitam. Yang diam dengan tatapan sopan, dan mengucapkan terimakasih saat menerima uang kembalian dari sopir meski kelihatannya ia bingung karena uang kembalian itu tak sebanyak biasanya, tapi ia tak protes. Ini adalah ucapan terimakasih pertama yang kudengar sejak aku naik angkutan ini hingga aku turun di pemberhentian terakhir. Luar biasa.. seberapa seringkah di Jakarta dan sekitarnya kau menemukan seorang penumpang mengucapkan terimakasih pada sopir bus kota, mikrolet, bajaj, ojeg yang telah mengantarkannya dengan selamat? Kata terimakasih menjadi kata yang amat mahal di tengah kebisingan dan kesibukan manusia mengejar dunia.

Lalu aku turun di pertigaan dan berjalan beberapa meter ke depan sebuah rumah mewah di tepi danau, yang menjadi meeting point tiap kali aku minta dijemput anakku dengan sepeda motor. Baru 3 menit berdiri menunggu di tepi jalan, tiba-tiba ada sepeda motor tua dengan seorang bapak tua mengenakan jaket kusam untuk membalut seragam kerjanya berhenti tepat di depanku. Entah apa yang dikatakannya, tapi aku lalu bertanya, “Kenapa, Pak?” Lalu jawabnya,”Ayo, bareng aja.. Bapak searah ke sana”. Tidak lazim di tempat ini ada yang saling peduli, ada yang berusaha saling membantu. Kalau saja aku tak terlanjur meminta dijemput, maka kuberikanlah kesempatan Bapak tua itu untuk menjemput pahalanya dengan menolongku.

Lima menit, sepuluh menit..kulihat ada bapak tua mendorong gerobak kecil dengan gundukan kacang rebus mengepul. Bapak tua berbaju batik dan berkopiah hitam itu berjalan pelan dan –anehnya- tersenyum kepadaku. Atau jangan-jangan aku yang tersenyum kepadanya? Maka, meski aku sedang tak ingin mengunyah kacang di sore yang gerah dan lelah itu, kurogoh juga kantong ranselku untuk mengambil uang. “Kacang, Pak”. Lalu, mengalirlah percakapan tentang dimana rumahku, sedang apa aku di situ, dimana rumah si Bapak dan seterusnya. Meski mulutnya telah kempot karena telah hilang seluruh giginya, Bapak tua ini tak malu untuk tersenyum lebar. Ahh, Pak.. rasanya malu kalau aku masih mengeluh ini itu akhir-akhir ini.

Itulah teman, bermacam-macam orang yang kujumpai sore ini dalam perjalan pulang dengan angkutan umum selama 45 menit, dan menunggu di depan sebuah rumah mewah selama 20 menit. Aku baru saja mengerti sore ini, bahwa Allah mungkin sengaja memberiku temperamen tinggi agar aku belajar sabar. Lalu mungkin Allah juga mempertemukanku dengan orang-orang ini agar aku mempelajari juga banyak hal… Ya, Allah..kadang sengaja Kau berikan cahaya-Mu di dalam gelap agar aku makin bersyukur pada-Mu..

1 komentar:

  1. Lucu juga ya, nDra. Cerita sehari2 yang 'seringkali' terjadi pada kita, tapi kita 'jarang sekali' mengambil pelajaran. Padahal waktu terus bergulir dari senin ke senin, jum'at ke jum'at, februari ke februari dengan suatu maksud, apakah kita akan lebih baik dan lebih banyak belajar dari setiap bergulirnya waktu tersebut ataukah tidak? Teruskan belajarnya ya nDra...

    ReplyDelete